Wednesday, June 22, 2011

Sya'ban: Persiapan Menuju Pertemuan


Tidak seperti biasanya Kang Oded bangun di pagi hari buta, selesai shalat subuh dia asyik mempersiapkan hidangan yang lezat, lalu segera membersihkan dan menghias rumahnya meskipun peluh membasahi tubuhnya. Kemudian ia pergi membersihkan badannya, lalu mengenakan pakaian rapih dan bersih. Dengan senang, tenang dan ikhlas dia melakukan itu semua, karena dia akan didatangi seorang tamu agung yang sudah ia kenal baik kepribadiannya.
Kisah ini sebagai analogi gerak hidup kita di bulan ini dan di hari ini, yaitu bulan Sya’ban. Kita sedang bergerak menuju keikhlasan mempersiapkan seperti ikhlasnya Kang Oded dalam menyambut tamu agungnya. Penyambutan agung ini tidak akan kita lakukan jika kita tidak mengenal siapa tamu yang akan mendatangi rumah kita, akhirnya kita malah lengah dan lalai ataupun sampai menyepelekan tamu agung tersebut. Dan ketika tamu itu mengetuk pintu rumah, barulah kita sibuk menghidangkan dengan hidangan seadanya.
Kondisi lengah dan lalai ini –menurut Nabi Muhammad Saw.- banyak menimpa manusia pada bulan Sya’ban. Sebagaimana dalam salah satu haditsnya riwayat Abu Daud dan An Nasa’i dari Usamah Ibn Zaid berkata kepada Rasulullah Saw. “Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihatmu berpuasa satu bulan penuh dari sekian bulan kecuali pada bulan Sya’ban” beliau bersabda “Ini adalah bulan dimana manusia sedang lengah (lalai), yaitu bulan antara Rajab dan Ramadhan, dan dia adalah bulan dimana segala amalan diangkat menuju Tuhan sekalian alam. Dan saya lebih menyukai dalam keadaan bershaum ketika amalanku sedang diangkat”. Sekali lagi, kondisi lalai ini terjadi karena kita tidak mengenal atau bahkan menyepelekan “Tamu agung” (baca; Ramadhan) yang akan tiba. Bulan ini adalah kesempatan besar untuk orang-orang yang senantiasa waspada untuk beramal shalih, karena amalan yang kita kerjakan di saat orang lain dalam keadaan lengah, bernilai besar di hadapan Allah Swt.. Sebagaimana besarnya pahala orang yang berdzikir di pasar, di saat orang lain sibuk transaksi, atau shalat di tengah malam di saat orang-orang tertidur lelap, atau bersabar dalam berjihad di saat orang lain tunduk takluk.
Sya’ban adalah bulannya warming up karena ia cerminan bulan Ramadhan, sebab itu Nabi memperbanyak puasa di bulan Sya’ban agar jasad dan ruh siap menghadapi bulan suci Ramadhan. Kenapa Nabi lebih memilih ibadah puasa di bulan Sya’ban dibandingkan ibadah lain?, karena puasa, disamping Junnah (Perisai/pencegahan) Ruh kita dari penyakit-penyakit spiritual, juga bisa melatih jasad kita sehingga ketika shaum di bulan Ramadhan kita tidak mengalami kepayahan. Sedangkan kondisi payah dan cape sering kali menghasilkan keluh kesah, dan keluh kesah akan melahirkan ketidakikhlasan, pada akhirnya sesuai dengan sabda Nabi “Kerap kali orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali (mendapatkan) rasa lapar. Kerap kali orang yang mendirikan shalat tidak mendapatkan apa-apa kecuali (mendapatkan) bergadang saja" (HR. An Nasa'i dan Ibn Majah).
Lain halnya jika kita tidak mempersiapkan ruh dan jasad di bulan Sya’ban, apatah lagi jika keduanya malahan dilatih dalam kemaksiatan, di samping nantinya jasad kita akan merasa berat di bulan Ramadhan, juga kemaksiatan akan terus menjadi rintangan. Meskipun pada bulan ini Nabi pernah bersabda “Jika datang bulan Ramadhan, maka dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan dibelenggunya syaitan” (HR. Bukhari dan Muslim), tetap saja kita akan terus didatangi kemaksiatan atau bahkan melakukan kemaksiatan di bulan Ramadhan. Karena jiwa-jiwa syaitan sudah menghunjam di akhlaq kita, walaupun syaitan telah dibelenggu oleh Allah Swt.
“Bulan Persiapan” (baca: Sya’ban) ini sangat dimanfaatkan dengan baik oleh para Salafuna Ash Shalih, sehingga amalan ibadah mereka di bulan ini dilakukan sebagaimana mereka biasa amalkan pada bulan penuh berkah. “Bulan Keberkahan” akan mendatangi mereka sehingga persiapan diri di bulan Sya’ban menjadi keikhlasan bukan lagi paksaan, maka ketika pintu bulan Ramadhan ditutup, mereka malahan bersedih bukannya bergembira. Sampai-sampai mereka mengharap dapat bertemu kembali dengan bulan Ramadhan.Pada bulan Sya’ban ini Nabi Saw. -yang telah Allah jamin masuk surga- kerap mempersiapkan dirinya menghadapi Ramadhan, mengapa kita yang tidak?!. Mari mulai persiapan ini dengan memperbanyak ibadah shalat malam, atau shaum sebelum memasuki pertengahan Sya’ban karena menurut Imam Syafi’i tidak boleh berpuasa setelah pertengahan bulan Sya’ban bagi orang yang tidak terbiasa shaum sunnat, dengan dalil sabda Rasul “Janganlah kalian mendahului bulan Ramadhan dengan puasa satu atau dua hari, kecuali jika bagi orang yang biasa berpuasa, maka berpuasalah pada hari itu” (HR. Shahihain). Kemudian mari kita meninggalkan hal-hal yang bid’ah, seperti; melakukan shalat dua belas raka’at antara maghrib dan ‘isya pada hari jum’at pertama di bulan Sya’ban, atau melakukan shalat seratus raka’at dan membaca surat Yaasiin tiga kali di malam pertengahan Sya’ban. Sebab hadits-hadits yang berkaitan dengan yang disebutkan ini berderajat Maudlu’ (palsu) dan Nabi beserta para shahabat tidak pernah melaksanakannya.

Lanjuuut......

Wednesday, November 11, 2009

HAJI, IBADAH DUA DIMENSI


Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (QS. Al Hajj:27)

Haji merupakan ibadah yang memiliki dua dimensi yang sangat berpengaruh kepada pahala yang akan diterima para Hujjâj. Kedua dimensi tersebut adalah dimensi hubungan manusia dengan manusia dan dimensi hubungan manusia dengan Allah Swt. Oleh karena itu, pelaksanaan ibadah haji membutuhkan persiapan dan perbekalan yang banyak, karena pengorbanannya pun sangat besar, baik itu dari segi ilmu, fisik, jasad dan harta.

Pada dimensi pertama kita bisa menemukannya dalam perintah Allah Swt yang melarang kepada para Hujjâj untuk Rafats, Fusûq, dan Jidal (QS. 2:197), atau juga ketika membagikan hasil kurban. Sedangkan dimensi kedua kita bisa merasakannya ketika melaksanakan rukun-rukun haji, dan yang lebih khususnya ketika kita berada di padang 'Arafah.
"Ibadah dua dimensi" ini sudah jauh-jauh hari dilakukan semenjak jaman Nabi Ibrahim As, yang telah Allah diabadikan dalam Al Qur'an surat Al Hajj. Dan ayat di atas merupakan salah satu dari ayat-ayat Al Qur'an yang berkenaan mengenai perintah haji.

• Asbâbunnuzûl ayat (Sebab turun ayat)
Diriwayatkan oleh Ibn Jarir dari Mujahid berkata "mereka (Hujjâj) tidak berkendaraan", lalu Allah menurunkan ayat ini dalam menjawab pernyataan Mujahid, "…niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki ,dan mengendarai unta yang kurus…". Maka diperintahkanlah kepada mereka agar membawa bekal, serta mereka diberi keringanan boleh berkendaraan, dan berdagang.

• Tafsir (penjelasan) ayat
Nabi Ibrahim As adalah Nabi yang diperintah oleh Allah agar membangun masjidil Haram, dan mesjid inilah mesjid yang pertama dibangun untuk manusia (QS. 3:96).

* " Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji,…" (QS. Al Hajj:27)
Ketika Nabi Ibrahim As menyelesaikan Masjidil Haram, Allah Swt memerintahkannya untuk berseru kepada sekalian manusia agar mereka dapat melaksanakan ibadah haji. Lalu beliau balik bertanya kepada Allah "wahai Tuhan, bagaimana bisa suara hamba sampai kepada manusia ?", Allah berfirman "Berserulah, akan Kami sampaikan". Kemudian beliau bergegas menaiki gunung Abi qubais (ada yang berpendapat beliau menaiki batu atau bukit Shafa) dan berseru "wahai sekalian manusia ! sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar melaksanakan haji di Bait ini. Dia akan memberimu surga karenanya, dan akan menjauhkanmu dari siksa neraka". Ketika beliau berseru, gunung-gunung menunduk sehingga suaranya bisa terdengar ke penjuru bumi, maka yang berada dalam sulbi-sulbi laki-laki dan yang berada dalam rahim wanita menjawab seruannya "Labbaik Allâhumma Labbaik (kusambut panggilan-Mu ya Allah)".
Al Qurthubi mengutip pendapat Ibn Abbas dan Ibn Jabir berkata "Maka jika mereka menjawab seruannya pada waktu itu, mereka akan dapat melaksanakan ibadah haji sesuai dengan banyak jawabannya dulu. Jika menjawabnya sebanyak satu kali, maka dia akan melaksanakan haji satu kali, dan jika dua kali maka dia akan melaksanakannya sebanyak dua kali".
Kita dapat membayangkan bagaimana Nabi Ibrahim dahulu kebingungan ketika Allah memerintahkannya untuk menyeru manusia agar dapat menunaikan haji, terbukti dengan pertanyaan beliau yang bernada heran kepada Allah Swt. Betapa tidak, sebab pada waktu itu beliau sedang berduaan dengan anaknya (Nabi Ismail As), dan manusia yang mengimani ke-Esa-an Allah pun pada waktu itu masih sedikit, serta suara Nabi Ibrahim juga tidak akan kuat terdengar kesemua penjuru dunia.
Akan tetapi, keimanan seorang kekasih Allah tidak akan sampai melanggar perintahNya, maka beliau segera melaksanakan tugas suci ini sehingga Allah memberinya mukjizat dengan terdengar suaranya kepada seluruh manusia yang masih berada di dalam sulbi ayahnya dan berada dalam rahim ibunya.
Oleh karena itu, salah jika kita mengatakan kepada orang yang belum menunaikan ibadah haji dengan ucapan "Anda belum dipanggil", karena Nabi Ibrahim jauh-jauh hari sudah menyeru umat manusia. Akan tetapi selayaknya kita ucapkan kepadanya dengan ucapan "Semoga Anda termasuk orang-orang yang menjawab seruan Nabi Ibrahim dahulu", karena ucapan ini disamping tidak meniadakan seruan Nabi Ibrahim As dulu, juga tidak meniadakan dan atau mendahului memutuskan takdir seseorang yang tidak diketahui semua manusia.

* "… niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki,dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh" (QS. Al Hajj:27)
Tidak ada ikhtilaf dalam hal bolehnya para Hujjâj berkendaraan atau berjalan ketika akan melaksanakan haji, akan tetapi terjadi ikhtilaf dalam masalah keutamaan diantara keduanya :
a. Imam Malik dan Syafi'i berpendapat bahwa orang yang berkendaraan lebih utama dari pada yang berjalan kaki, karena ini mengikuti perbuatan Nabi Saw, dan karena ongkos serta bekalnya lebih besar.
b. Sebagian ulama berpendapat bahwa berjalan kaki lebih utama dari pada berkendaraan, dengan alasan kesusahannya lebih besar dirasakan para pejalan kaki. Madzhab ini mengambil dalil bahwa Nabi Saw dan para sahabat dahulu berjalan kaki dari Madinah menuju Makkah, sehingga Nabi bersabda "Ikatlah pinggang kalian dengan kekuatan kalian" (HR. Ibn Majah). Hadis ini menggambarkan betapa susahnya Nabi Saw beserta para sahabatnya yang berjalan kaki menuju Makkah, sebab itu madzhab ini beralasan bahwa pahala akan semakin besar jika pengorbanan tubuhpun besar. Akan tetapi, hadis ini berderajat dla'if (lemah), maka hadis ini lemah untuk dijadikan dalil mengenai masalah ini.
Dalam potongan ayat di surat Al Hajj:27 terdapat istilah Dlamir, yaitu seekor unta yang kurus dan kelelahan akibat dari perjalanannya, hal ini menggambarkan jauh dan sukarnya jalan yang ditempuh oleh jama'ah haji. Ada yang berpendapat bahwa Allah meng-qiyaskan (analogikan) dlamir ini dengan harta yang habis ketika sampai di Makkah. Maka, pada jaman modern ini kita bisa mengqiyaskan dlamir dengan ongkos biaya pesawat, mobil dll, yang dikeluarkan para Hujjâj sehingga mereka bisa sampai ke Makkah. Kenapa demikian?, karena Al Qur'an pun mengakui akan adanya kendaraan selain kendaraan dari hewan, sebagaimana dalam firman Allah Swt "dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak ketahuinya. (QS. 16:8).
Potongan ayat yang digaris bawahi ini menunjukkan bahwa Allah Yakhluqu/akan menciptakan (dengan menggunakan fi'il Mudlari', menunjukkan masa yang akan datang) kendaraan yang pada waktu itu bangsa Arab belum mengetahuinya, dan akan diketahui pada masa sekarang ini.
Durus wa I'bar (Pelajaran dan Ibrah)
Dari penafsiran ayat di atas, kita dapat mengambil pelajaran dan ibrah mengenai ibadah haji, diantaranya :
1. Ibadah haji diwajibkan bagi mereka yang sudah mampu.
2. Ibadah haji adalah ibadah yang begitu besar pengorbanannya, baik itu pengorbanan harta, fisik ataupun nyawa.
3. Ibadah haji adalah salah satu sarana untuk berta'aruf dengan muslimin dari seluruh penjuru dunia.
4. Ibadah haji adalah salah satu ibadah yang tidak mengusung pesan rasialisme (fanatik suku), nasionalisme (fanatik Negara) dan diskriminasi jender (Membeda-bedakan antara wanita dan laki-laki). Karena ibadah haji adalah perjalanan rohani yang menanggalkan semua urusan duniawi, baik itu pangkat, kekayaan ataupun ketenaran.
5. Islam adalah satu-satunya agama yang sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim, juga agama yang meneruskan ajaran-ajaran Nabi Ibrahim.
In Urîdu Illal Ishlâha Mastatho’tu

Lanjuuut......

Wednesday, November 12, 2008

Andai Saja

Teruntuk: Muslimin dan Muslimat

Saudaraku tercinta, saudariku tersayang, jika ada yang memberitahumu akan ada orang agung yang hendak bertamu kerumahmu besok, apa yang akan kamu lakukan?
Apakah kamu akan segera membersihkan rumah, menghiasnya dan mempersiapakan makanan yang lezat dan lagi mewah, ini semua untuk kamu hidangkan bagi tamu agungmu?
Ya, kami yakin ini yang akan kamu lakukan. Semakin agung kedudukan tamumu, maka akan semakin besar penghormatanmu kepadanya?
Namun, bayangkan saudaraku, andaikan orang yang bertamu kerumahmu adalah dia.....dia....

Muhammad Saw..... Rasulullah secara pribadi datang bertamu kerumahmu....bayangkan....
Bayangkan saja, manusia terbaik bertamu kerumahmu. Dia bukan seorang mentri ataupun pemimpin, tapi dia orang yang paling utama di hamparan dunia ini dan di sepanjang sejarah manusia.

Dalam surat ini kami mengajak kamu untuk membayangkan bersama bagaimana sikap kita. Kalaulah seorang yang paling agung akhlaknya Saw, mendatangimu?

Dia berziarah kerumahmu

Saudaraku yang saya cintai, andai saja Nabi mengetuk pintu rumahmu saat ini.....apa respon kamu?
Apakah kamu bergegas menuju pintu dan mengucapkan selamat datang kepada Nabimu, dan air mata kebahagian mengucur dari matamu?
Apakah kamu akan segera menuntun Nabi untuk masuk kerumahmu, dan kamu berkata: "Amboi, Rasulullah berada dirumahku.....inilah hari yang paling bahagia di sepanjang hidupku"
Apakah ini benar yang akan kamu lakukan, ataukah kamu malah kaget dan gelisah ketika mendengar pintumu di ketuk? dan kamu berlari menuju kamar untuk menyembunyikan kaset-kaset nyanyian dan menggantinya dengan kaset Al Qur'an? Atau kamu segera mencabut kabel parabola dan mendelet chanel-chanel musik erotic? Atau kamu buru-buru menghidupkan komputer untuk mendelet file-file yang tidak pantas, atau kamu cepat-cepat mencabut poster-poster penyanyi di dinding kamarmu?, Atau kamu akan menemui Nabi sedangkan rokok ditanganmu, atau kamu baru ingat sekarang bahwa rokok itu haram, atau kalaulah kamu tidak berpendapat itu haram, maka kenapa kamu malu merokok di hadapan Nabi?

Dan kalaulah kamu memang sudah merapikan semua itu, serta kamu telah menyembunyikan semua hal yang dapat membuat Rasulullah marah. Kemudian kamu menemuinya dan duduk bersama beliau dengan menata tutur katamu seraya kamu senang melihat wajah beliau yang bercahaya. Namun bayangkan, jika Nabi berkata bahwa dia akan tinggal bersamamu selama satu bulan lebih....apakah kamu akan senang atau malah bersedih?

Apakah kamu akan sebagaimana para sahabat yang berlomba-lomba meminta Nabi untuk bertamu kerumahnya di saat beliau baru tiba di madinah. Atau kamu akan merasa cemas sembari membayangkan apa yang akan terjadi selama satu bulan tersebut?

Apaka beliau akan merasa bangga ketika melihatmu lalai dalam mengerjakan shalat, atau di saat kamu enggan berjama'ah?
Apakah dalam waktu sebulan itu beliau akan melihatmu rajin membaca Al Qur'an, atau malahan melihatmu banyak membaca koran dan nonton film-film yang diharamkan?
Apakah dalam waktu sebulan itu beliau akan melihatmu baik dalam bermuamalah terhadap keluargamu, ataukah beliau malahan mendengar teriakanmu dengan tangan mengacung-acung, serta lidahmu mengeluarkan kata-kata kasar? Padahal Rasulullah berkata: "Orang yang paling baik di antaramu, adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, sedangkan saya orang yang paling baik terhadap keluarga!"

Dia mengunjungi tempat kerjamu

Itu tadi jika Nabi muhammad Saw. bertamu kerumahmu, maka bagaimana kalau beliau mengunjungi tempat kerjamu?

Apa yang akan kamu katakan kepada Rasulullah Saw. sedangkan beliau melihat kelalaian dalam berkerja? Apa yang kamu katakan kepadanya padahal beliau bersabda "Sesungguhnya Allah mencintai jika kalian mengerjakan suatu perkerjaan diiringi dengan keseriusan"

Apa yang akan kamu katakan kepada beliau sedangkan beliau melihat praktek suap-menyuap, untuk melancarkan pekerjaan atau apa yang biasa yang kamu sebut dengan "hadiah"?, apa yang kamu katakan kepadanya sedangkan beliau pernah bersabda "Allah melaknat orang yang menyuap, dan yang disuap".
Apa yang kamu akan katakan kepada Nabi Saw. jika beliau melihat penipuan dalam praktek jual beli dan praktek perekonomianmu. Sedangkan beliau pernah bersabda "Orang yang menipu bukanlah termasuk golongan kami"

Dia bersamamu di jalanan

Bagaimana kalau Nabi berjalan bersamamu di jalanan? apakah beliau akan merasa bahagia ketika beliau mendengar kalimat- kalimat kasar yang dapat mengotori telinga orang yang sholeh?
Apakah kamu bisa membayangkan kemarahannya ketika beliau mendengarkan cercaan (gosip) istri-istri yang keluar dari lidahnya begitu saja, padahal beliau bersabda "Jauhilah tujuh hal yang termasuk dosa besar" salah satunya beliau katakan "Cercaan istri-istri yang berdosa". Ini beliau masukan sebagai dosa yang besar, yang bisa mengantarkan pelakunya pada neraka?

Apakah Rasulullah akan ridla sedang beliau melihat istri-istri kita, anak-anak kita di jalanan tanpa mengenakan hijab dan berpakaian yang bisa menimbulkan fitnah bagi para pemuda?. Apakah beliau akan mengatakan bahwa hal itu layaknya wanita-wanita pesolek?, Atau beliau akan mengatakan mereka sebagaimana cucunya Khadijah, Aisah, dan asma?

Apakah Rasulullah akan merasa bahagia ketika melihat mesjid-mesjid kosong?. Apakah Rasulullah akan merasa ridla ketika melihat arak-arak dan klub-klub malam menyebar di negara-negara Islam?. Apakah Rasulullah akan merasa ridla ketika melihat para pemuda di jalanan sedang asyik menggoda wanita?

Keadaan ummat Islam dewasa ini

Apa yang kamu katakan kepada Rasulullah, jikalau beliau menanyakan kepadamu mengenai kondisi ummat Islam dewasa ini?
Apakah kamu akan berbohong dan berkata bahwa ummat Islam dalam keadaan baik-baik saja, atau kamu akan berani memberi kabar kepada Rasulullah bahwa kami sedang dalam kehinaan?, Memberi kabar mengenai Al Aqsa (tempat Isra'nya Rasulullah) yang dirampas yahudi, dan mereka berusaha menghancurkannya sekarang!!!
Tentang ummat Islam yang terbunuh pagi dan petang di Irak, Afganistan, Chechna, Kashmir, dan di setiap tempat!!!
Apa yang akan kita katakan kepada beliau, padahal beliau pernah berkata mengenai haramnya darah muslim bahkan itu begitu agung di sisi Allah dibandingkan kehormatan Ka'bah?
Beliau yang mengirimkan tentara untuk membunuh Yahudi setelah mereka membunuh ummat Islam dan merampas kehormatan muslimah, sehingga Rasulullah membalasnya. Tapi sekarang, lihatlah siapa yang lemah di setiap tempat?
Bayangkan, andai saja beliau bertanya kepadamu "apa yang kamu perbuat untuk menolong saudaramu sesama muslim?, apakah kalian tidak mendengar perkataanku: "Barang siapa yang tidak merasa peduli terhadap urusan ummat Islam maka bukanlah golongan mereka"?
Apakah kamu bisa menemukan jawaban dari pertanyaan Rasulullah ini?!

Bagaimana kalau Rasulullah meminta setengah dari hartamu, untuk digunakan di jalan da'wah dan jihad di jalan Allah?. Apakah kamu akan menyambut permintaannya itu sebagaimana Umar bin Khattab, atau kamu akan menyerahkan seluruh hartamu sebagaimana Abu Bakar Shiddiq, atau malahan kamu akan menolak dan bersikap kikir dan mencari hujjah untuk meminta maaf?

Saudaraku yang saya cintai, bayangkan akan marahnya Rasulullah ketika melihat negri kita menegakkan hukum bukan dengan syari'at Allah yang diturunkan kepadanya!!
Bayangkan, andaikan Nabi mendengarkan ucapan yang mengatakan bahwa "Agama tempatnya di mesjid, maka jangan mencampuri urusan politik, ekonomi, dan tata negara"!!
Apakah beliau akan merasa ridla akan hal itu, padahal beliau seorang pemimpin pertama negara Islam?. Apakah Rasulullah akan setuju, ketika beliau melihat bungkamnya muslimin di saat melihat kedzaliman dan kerusakan. Padahal beliau pernah bersabda "Jihad yang paling utama adalah ucapan benar di hadapan pemerintah yang berdosa"

Saudaraku yang saya cintai, .....
Apakah kamu membaca tulisan ini dengan matamu, atau dengan mata hatimu?
Apakah kamu membacanya dengan tatapan hampa, atau kamu memikirkan di setiap untaian katanya dengan akal yang Allah berikan kepadamu?
Apakah kamu benar-benar merasa tidak siap dengan kedatangan Nabi ke rumahmu?
Renungilah dan tanya dirimu, apakah Rasulullah di hari akhir nanti akan berkata kepada kita "Umatku, umatku", atau berkata "Pergi, pergi!"?

Saudaraku yang saya cintai.....
Meskipun Muhammad Rasulullah tidak melihatmu, namun Tuhannya Muhammad melihatmu. Dan meskipun Rasulullah telah meninggal, Allah itu Maha Hidup dan tidak akan meninggal.
Allah tidak akan ridla dengan apa saja yang telah saya sebutkan di atas, karena Rasulullah pun tidak meridlainya.
Maka, segeralah bertobat dan meminta ampunan dari Sang Pemberi Ampunan. Ketahuilah, Allah yang Maha Suci senantiasa membentangkan Tangannya di malam hari bagi orang yang bertobat dari dosa-dosa yang diperbuatnya di siang hari, dan senantiasa membentangkan Tangannya di siang hari bagi orang yang bertobat dari dosa-dosa yang diperbuatnya di malam hari, dan ini akan terus berlangsung hingga matahari muncul dari Barat.

Ketahuilah,
Cinta kepada Rasulullah tidak dengan untaian kata semata,
namun mesti dengan geraknya usaha.
Penterjemah: Fankano

Lanjuuut......

Monday, November 10, 2008

B O N Y O K

Sejenak kita membayangkan, bagaimana rupa orang yang sudah dipukul secara bertubi-tubi, darahnya mengalir keseluruh muka, sehingga muka orang tersebut akan nampak lebam dan sudah tidak dapat dikenali lagi. Bonyok, itulah kira-kira sebutan baginya. Seperti ini pula analogi kondisi bangsa kita, yang sudah lama merasakan kemerosotan nilai-nilai penting yang semestinya dipertahankan oleh setiap masyarakat. Nilai-nilai tersebut seakan-akan sudah tidak dihiraukan lagi kepentingannya, disebabkan sudah terbiasanya hidup dalam keterpurukan. Layaknya tukang sampah yang sudah tidak menghiraukan lagi rasa bau dan kotornya sampah.

Bagaimana dengan kita, sebagai generasi penerus bangsa dalam mensikapi keterpurukan Indonesia ?!. Nilai-nilai penting yang mengangkat derajat dan kesejahteraan rakyatnya sudah hampir hilang. Nilai-nilai yang saya maksudkan adalah nilai politik, nilai ekonomi, dan nilai sosial-budaya. Dalam istilahnya Kuntowijoyo nilai-nilai ini disebut dengan etika, dan etika inilah yang biasa menetapkan pandangan mengenai suatu hal yang benar ataupun salah.
Sedikit menilik nilai-nilai politik Indonesia yang sudah bonyok dihantam kediktatoran dan otoritarianisme orde lama dan orde baru. Rakyat dipaksa menuruti semua kebijakan-kebijakan pemerintah, sekalipun bertentangan dengan agama dan budaya. Pada masa orde reformasi, pemerintah telah membohongi rakyat dengan menggunakan kedok reformasinya. Yel-yel yang dulu digaungkan para mahasiswa dan harapan-harapan yang diangkat rakyat Indonesia sudah tidak dihiraukan lagi, dengan alasan reformasi yang mereka persepsikan sebagai “kebebasan” di segala bidang. Terwujudnya Good and Clean Governance (pemerintahan yang baik dan bersih) di negri ini seakan-akan telah menjadi utopia yang mengakar kuat dalam benak masyarakatnya. Lalu, akan dibawa kemanakah kita pada pemerintahan SBY kali ini ?!.
Nilai-nilai ekonomi bangsa inipun sudah lebam dipukuli dengan pencurian dan perampokan massal, dimulai dari birokrat terendah sampai elit politik paling atas, dari orang bodoh sampai orang terdidik. Mereka mencuri ataupun memeras uang rakyat dengan kapasitas yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kedudukannya. Sebab itulah negara kita menduduki tingkat atas dalam hal korupsi. Bukan menjadi rahasia lagi bahwa nilai-nilai ekonomi kita sudah lama disetir oleh IMF dan negara-negara adikuasa, kita tidak dapat bergerak leluasa karena memiliki hutang materil sekaligus hutang budi kepada mereka. Sehingga sering kali kebijakan-kebijakan politis pemerintah Indonesia mengikuti kebijakan-kebijakan bangsa asing.
Nilai-nilai sosial-budayapun sudah takluk oleh hawa nafsu manusia yang terlahir dari ketidakberdayaannya para orang tua, tokoh masyarakat, ulama dan pemerintah di dalam memberikan nasihat secara qauli dan fi’li. Jiwa gotong-royong dan musyawarah yang sedari dulu dielu-elukan bangsa kita -bahkan sudah menjadi tipikal masyarakat Indonesia-, kini sudah keropos dimakan rayap-rayap individualisme. Sosial-budaya kita sudah kalah dihantam Budaya barat, sehingga budaya barat seakan-akan menjadi suatu hal yang mesti diikuti para pemuda. Loncatan budaya free sex-pun sudah melejit begitu tinggi, sehingga banyak hasil polling yang membuat kita mesti mengurut dada. Buku-buku yang menyingkap budaya free sex, seperti buku “Sex In The Kost” dan “Jakarta Under Cover”, bukannya menjadi bahan renungan dan menjadi solusi problem, akan tetapi malah menjadi suatu “kebanggaan” dan menjadi buku semi porno yang berkedok perjuangan moralitas. Kalaulah para penulis tersebut sadar, pasti mereka cukup menuliskan gambaran umum budaya free sex yang menjangkit para pemuda, bukan malah membahasnya secara mendetail tanpa melihat efek negatifnya.
Dengan melihat kondisi bangsa kita saat ini, sering kita mendengar selentingan emosi yang keluar dari sekelompok orang yang menyerukan "potong satu generasi !", maksudnya menyerukan agar menghapus satu generasi yang sudah tidak bisa lagi diobati dari penyakitnya yang sudah akut. Pikiran ini terlahir dari cara berpikir mereka yang instant yang dibidani oleh rasa kepesimisan dan kepragmatisan mereka.
Oleh karena itu, mari kita sadar dan kembali kepada agama yang mengajarkan nilai politik egaliterianisme (kesederajatan) antar pemerintah dengan rakyat (QS. 49 : 13), serta yang memerintahkan kepada nilai ekonomi yang jujur dan yang memelihara keamanan harta rakyat (QS. 2 : 188). Juga memerintahkan kepada nilai-nilai sosial-budaya yang berakhlaqul karimah (QS. 5: 2).
Ajakan kembali kepada agama ini bukan berarti mengajak manusia agar kembali pada Dark Age (masa kegelapan) dimana agama Kristen menguasai seluruh aspek kehidupan manusia sehingga menghancurkan peradaban dunia, akan tetapi ajakan ini adalah ajakan kepada Renaisans/Tanwiir dimana agama Islam menerangi seluruh aspek kehidupan manusia.
In Urîdu Illal Ishlâha Mastatho’tu

Lanjuuut......